Upacara Ngaben Bali
| |
Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama sbg
kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan
prosesi pembakaran jenazah. Seperti yg tulis di artikel ttg pitra
yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma.
Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yg disebut Panca Maha Bhuta
yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu
(angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk
fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh). Ketika manusia meninggal yg
mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Nah ngaben adalah proses
penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar.
| |
Ada
beberapa pendapat ttg asal kata ngaben. Ada yg mengatakan ngaben dari
kata beya yg artinya bekal, ada juga yg mengatakan dari kata ngabu
(menjadi abu), dll.
Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sbg dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dgn menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yg digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta utk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yg melekat pada atma/roh. Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian. Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan. Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan. | |
Prosesi ngaben dilakukan dgn berbagai proses upacara dan sarana upakara
berupa sajen dan kelengkapannya sbg simbol-simbol seperti halnya ritual
lain yg sering dilakukan umat Hindu Bali. Ngaben dilakukan untuk
manusia yg meninggal dan masih ada jenazahnya, juga manusia meninggal
yg tidak ada jenazahnya spt orang tewas terseret arus laut dan jenazah
tdk diketemukan, kecelakaan pesawat yg jenazahnya sudah hangus
terbakar, atau spt saat kasus bom Bali 1 dimana beberapa jenazah tidak
bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat
ledakan.
Untuk prosesi ngaben yg jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya kemudian dibakar. Banyak tahap yg dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yg berbeda-beda. Ketika ada yg meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta utk menanyakan kapan ada hari baik utk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yg tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya. Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sbg kelompok yg karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol2 menggunakan kain bergambar unsur2 penyucian roh. | |
Pada
hari H-nya, dilakukan prosesi ngaben di kuburan desa setempat. Jenazah
akan dibawa menggunakan wadah, yaitu tempat jenazah yg akan diusung ke
kuburan. Wadah biasanya berbentuk padma sbg simbol rumah Tuhan. Sampai
dikuburan, jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan,
yaitu tempat membakar jenazah yg terbuat dari batang pohon pisang
ditumpuk berbentuk lembu.
Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yg dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralinaadalah pembakaran dgn api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yg melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dgn menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yg menggunakan angin. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yg utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yg dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu utk bayi yg berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yg akan ada jika ada keluarganya meninggal. Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya. Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali. | |
Selasa, 30 Oktober 2012
Upacara Ngaben
Rabu, 24 Oktober 2012
Rabu, 17 Oktober 2012
tempat wisata bali
Pura Tanah Lot
Tanah Lot yang terkenal akan keindahan sunsetnya merupakan salah satu tempat wisata menarik yang ada di Bali
Tanah Lot adalah sebuah objek
wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di di atas
batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak
di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan
bagian dari pura Sad Kahyangan, yaitu pura-pura yang merupakan
sendi-sendi pulau Bali. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat
pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Menurut legenda, pura ini dibangun oleh
seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Beliau adalah Danghyang
Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran
Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat
itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para
pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha.
Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah
Lot. Beliau menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan
kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke
tengah laut) dan membangun pura disana. Beliau juga mengubah
selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai
sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang
mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang
kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari
legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben akhirnya menjadi pengikut
Danghyang Nirartha.
Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban
Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan.
Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di
atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan
daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal
sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset),
turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset
di sini.
danau batur

Danau Batur adalah danau terbesar di Bali, terletak di kaki Gunung Batur. Paling bagus untuk menikmati suasana di sini adalah saat siang hari sambil menikmati makan siang.
Danau ini terletak di kaki Gunung Batur dan diyakini merupakan sebuah kaldera purba. Kaldera atau kawah raksasa itu diduga terjadi akibat letusan dahsyat gunung Batur ribuan tahun lalu. Kaldera itu kini digenangi air yang menjadi sumber air dari sebagian besar lahan pertanian di Bali. Ya, air dari danau ini mengalir ke hampir seluruh sungai besar di Bali seperti sungai Unda di Bali Selatan, sungai Suni di Bali barat, dan Sungai Bayumala di Bali Utara. Dari aliran sungai itulah air Danau Batur kemudian dibagi- bagi dengan tata aturan khusus yang disebut subak.
Di pinggir danau ini berdiri Pura Batur sebagi tempat pemujaan Betari Danu, yakni manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai dewi pelindung pertanian.
Pesona wisata Danau Batur tentulah pada pemandangan yang indah. Dan,kalau kamu mau menikmati pemandangan indah itu, tempat terbaiknya adalah I daerah panelokan-kintamani. Dari trotoar di pinggir jalan Raya Bangli- Singaraja, kita dapat melihat hamparan danau dengan airnya yang biru lembut berpadu sosok Gunung Batur yang kokoh menjulang, dan Bukit Abang yang hijau subur.
How to get there
Untuk ke kawasan danau Batur diperlukan waktu kira-kira 2 jam perjalanan dari Kuta. Kalau ga tau jalan ke sini, sangat disarankan kamu sewa mobil sekalian supir. Promosi lagi neehh buat e-kuta.com
Akomodasi
Kalau mau menginap, di Kintamani terdapat beberapa tempat penginapan. Harganya tentu bervariasi. Harga termurah sekitar Rp200 ribu, dan yang termahal sekitar Rp650 ribu.
Restoran juga banyak terdapat di wilayah ini. Beberapa restoran di penelokan yang terletak di titik terbaik untuk menikmati pemandangan Danau Batur, biasanya memasang tarif lebih tinggi untuk hidangan mereka
bedugul bali
Objek Wisata Bedugul Bali
Bedugul adalah objek wisata bali yang terletak di perbukitan dengan cuaca yang sangat sejuk dimana di bedugul juga terdapat sebuah danau yang bernama danau beratan.
![]() |
Di Objek wisata Bedugul terdapat sebuah pura yang bernama pura di ulun danu yang terletak di pinggir danau beratan. Pura ulun danu di percaya sebagai tempat bersemayaman dewi sri atau dewi kesububuran.
Lokasi
objek wisata bedugul terletak di desa Candi Kuning, Kecamatan Baturit kabupaten tabanan kurang lebih jaraknya 45 km dari pusat kota kabupaten dan Jaraknya dari kota denpasar sekitar 50 km ke arah utara mengikuti jalan raya Pura tersebut berada di tepi danau Beratan, nama pura ulun danu diambil dari kata danau.
objek wisata bedugul terletak di desa Candi Kuning, Kecamatan Baturit kabupaten tabanan kurang lebih jaraknya 45 km dari pusat kota kabupaten dan Jaraknya dari kota denpasar sekitar 50 km ke arah utara mengikuti jalan raya Pura tersebut berada di tepi danau Beratan, nama pura ulun danu diambil dari kata danau.
sejarah
urian sejarah Pura Ulun Danu Beratan diketahui dari arkeologi dan data sejarah yang terdapat dalam lontar babad Mengwi. Di sebelah kiri halaman depan pura Ulun Danu Beratan terdapat sebuah sarkopagus dan sebuah papan batu, yang berasal dari masa tradisi megalitik, sekitar 500 SM. Kedua artefak tersebut sekarang ditempatkan masing-masing di atas Babaturan atau teras diperkirakan lokasi di mana Pura Ulun Danu Beratan, telah digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ritual sejak jaman megalitik.
urian sejarah Pura Ulun Danu Beratan diketahui dari arkeologi dan data sejarah yang terdapat dalam lontar babad Mengwi. Di sebelah kiri halaman depan pura Ulun Danu Beratan terdapat sebuah sarkopagus dan sebuah papan batu, yang berasal dari masa tradisi megalitik, sekitar 500 SM. Kedua artefak tersebut sekarang ditempatkan masing-masing di atas Babaturan atau teras diperkirakan lokasi di mana Pura Ulun Danu Beratan, telah digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ritual sejak jaman megalitik.
![]() |
![]() |
Dalam lontar Babad Mengwi tersirat
menguraikan bahwa I Gusti Agung Putu sebagai pendiri kerajaan Mengwi
mendirikan Pura di pinggir Danau Beratan, sebelum beliau mendirikan pura taman ayun Dalam lontar tersebut tidak disebutkan kapan beliau mendirikan Pura Ulun Danu Beratan,
namun yang terdapat dalam lontar itu adalah pendirian pura taman ayun
yang upacaranya berlangsung pada hari Anggara Kliwon Medangsia tahun
Saka Sad Bhuta Yaksa Dewa yaitu tahun caka 1556 atau 1634 M. Berdasarkan
uraian dalam lontar Babad Mengwi tersebut diketahui bahwa Pura Ulun Danu Beratan
didirikan sebelum tahun saka 1556, oleh I Gusti Agung Putu. Semenjak
pendirian pura tesebut termasyurlah kerajaan Mengwi, dan I Gusti Agung
Putu digelari oleh rakyatnya " I Gusti Agung Sakti". Pura Ulun Danu Beratan terdiri dari 4 komplek pura yaitu:
Pura Lingga Petak, Pura Penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang, dan Pura Dalem Purwa berfungsi untuk memuja keagungan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti, guna memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan lestarinya alam semesta.
Pura Lingga Petak, Pura Penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang, dan Pura Dalem Purwa berfungsi untuk memuja keagungan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti, guna memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan lestarinya alam semesta.
Pura Goa Lawah
Pura Goa Lawah dengan kesuciannya merupakan salah satu tempat wisata menarik yang ada di Bali
Pura Goa Lawah berlokasi di
Kecamatan Dawan, Klungkung dan berada dipinggir utara jalan arteri
antara kota Semarapuira- ibukota Kab. Klungkung, kearah timur menuju
kota Amlapura- ibukota Kab.Karangasem. Jarak Pura Goa Lawah dari
Denpasar- ibukota Propinsi Bali sekitar 49 KM, atau 10 KM sebelah timur
kota Semarapura. Posisi Goa Lawah terletak pada koordinat 8 derajat, 31
menit Lintang Selatan dan 115 derajat, 30 menit Bujur Timur pada
ketinggian sekitar 5 meter dari muka air laut pasang tertinggi. Pura
yang dihuni ribuan kelelawar ini memiliki status sebagai Kahyangan
jagat, dalam hal ini Sad Kahyangan tempat sthana Ida Sang Hyang Basukih
dan menurut Padma Bhuwana, pura ini berada diarah tenggara sebagai
kedudukan Dewa Maheswara.
Sebagaimana pura-pura besar Kahyangan lainnya,
maka terasa sulit mengetahui dengan sebenarnya siapa pendiri dan kapan
didirikannya Pura Goa Lawah ini. Diperkirakan Maha Pandita Mpu Kuturan
memiliki hubungan kesejarahan dengan pendirian dan keberadaan Pura Goa
Lawah ini. Dang Hyang Nirartha dijaman pemerintahan Dalem Waturenggong
merupakan Maha Pandita lain yang pernah datang ketempat ini. Pengemong
Pura Goa Lawah adalah kramadesa adat Pesinggahan. Pada bulan-bulan baik-
sasih ayu dan hari-hari baik-rahina subhadiwasa, umat Hindu banyak
berdatangan ketempat ini. Di Pura ini umat Hindu melakukan upacara
Nyegara Gunung, karena lokasinya berada ditepi laut dan diperbukitan
atau gunung. Hanya beberapa meter disebelah selatan pura terdapat pantai
sedangkan gunung itu sendiri diwakili oleh perbukitan dimana pura dan
goa ini berlokasi. Konon Goa ini tembus ke Gunung Agung dan diperkirakan
merupakan bekas aliran sungai bawah tanah. Pura ini memiliki daya tarik
tersendiri bagi wisatawan karena keberadaan goa kelelawarnya sendiri
serta bangunan pura dan kegiatan umat bersembahyang. Pura ini memiliki
fasilitas yang cukup memadai, seperti Parkir, Wantilan, Urinoir / jamban
serta beberapa tempat berteduh baik bagi pemedek ataupun wisatawan
nusantara maupun mancanegara. Semua fasilitas ini seyogyanya ditata
kembali sehingga tepat fungsi dan selalu berada dalam keadaan bersih dan
rapi.
Gunung Batur Kintamani
Kintamani dengan keindahan pemandangan Gunung Batur dan danaunya merupakan salah satu tempat wisata menarik yang ada di Bali
Obyek Wisata Kawasan Batur atau lebih dikenal dengan kawasan Kintamani
terletak di Desa Batur, Kecamatan Kintamani Kabupaten Daerah Tingkat II
Bangli. Obyek Wisata Kawasan Batur berada pada ketinggian 900 m di atas
permukaan laut dengan suhu udaranya berhawa sejuk pada siang ahri dan
dingin pada malam hari. Untuk mencapai lokasi ini dari Ibu Kota Bangli
jaraknya 23 km. Obyek wisata ini dapat dilalui dengan kendaraan
bermotor, karena lokasi ini menghubungkan kota Bangli dan kota
Singaraja. Sedangkan rute obyek, menghubungkan Obyek Wisata Kawasan
Batur dengan Obyek Wisata Tampaksiring dan Besakih. Sumber-sumber yang
menyebutkan tentang Batur adalah Lontar Kesmu Dewa. Lontar Usana Bali
dan Lontar Raja Purana Batur. Disebutkan bahwa Pura Batur sudah ada
sejak jaman Empu Kuturan yaitu abad X sampai permulaan abad XI. Luasnya
areal dan banyaknya pelinggih-pelinggih maka diperkirakan bahwa Pura
Batur adalah Penyiwi raja-raja yang berkuasa di Bali, sekaligus
merupakan Kahyangan Jagat. Di Pura Batur yang diistanakan adalah Dewi
Danu yang disebutkan dalam Lontar Usana Bali yang terjemahannya sebagai
berikut: Adalah ceritera, terjadi pada bulan Marga Sari (bulan ke V)
waktu Kresna Paksa (Tilem) tersebutlah Betara Pasupati di India sedang
memindahkan Puncak Gunung Maha Meru dibagi menjadi dua, dipegang dengan
tangan kiri dan kanan lalu dibawa ke Bali digunakan sebagai sthana Putra
beliau yaitu Betara Putrajaya (Hyang Maha Dewa) dan puncak gunung yang
dibawa tangan kiri menjadi Gunung Batur sebagai sthana Betari Danuh,
keduanya itulah sebagai ulunya Pulau Bali. Kedua Gunung ini merupakan
lambang unsur Purusa dan Pradana dari Sang Hyang Widhi. Pura Batur
merupakan tempat Pemujaan Umat Hindu di seluruh Bali khususnya Bali
Tengah, Utara dan Timur memohon keselamatan di bidang persawahan.
Sehingga pada saat puja wali yang jatuh pada Purnamaning ke X (kedasa)
seluruh umat terutama pada semua kelian subak, sedahan-sedahan datang ke
Pura Batur menghaturkan Suwinih. Demikian kalau terjadi bencana hama.
Nama obyek wisata kawasan Batur disesuaikan
dengan potensi yang ada yaitu Gunung Batur dan Danau Batur. Nama Pura
Batur berasal dari nama Gunung Batur yang merupakan salah satu Pura Sad
Kahyangan di emong oleh Warga Desa Batur. Sebelum meletusnya Gunung
Batur pada tahun 1917, Pura Batur berada di kaki sebelah Barat Daya
Gunung Batur. Akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh letusan Gunung
Batur ini, maka Pura bersama warga desa Batur dipindahkan di tempat
sekarang. Sisa-sisa lahar yang membeku berwarna hitam, Gunung Batur
tegak menjulang, Danau Batur teduh membiru, merupakan suatu daya tarik
bagi setiap pengunjung. Dari Penelokan dapat memandang birunya Danau
Batur dan buih-buih ombak yang menepi menemani sopir boat saat melayani
wisatawan dan penumpang umum dalam setiap penyeberangan dari Desa
Kedisan ke Desa Trunyan. Para nelayan juga mewarnai kesibukan di Danau
Batur mengail ikan mujair yang hasil tangkapannya di jual di pasar Kota
Bangli, sehingga di Bangli dikenal dengan sate mujairnya yang merupakan
makanan ciri khas Kabupaten Bangli.
Desa Trunyan adalah salah satu
desa di Kintamani yang cukup unik, terletak di sebelah timur bibir
danau Batur, letak ini sangat terpencil. Jalan darat dari Penelokan,
Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Dari Kedisan ke desa Trunyan
orang harus menyeberang danau Batur selama 45 menit dengan perahu
bermotor atau 2 jam dengan perahu lesung yang digerakkan dengan dayung.
Selain jalan air, Trunyan juga dapat dicapai lewat darat, lewat jalan
setapak melalui desa Buahan dan Abang. Hawa udara desa Trunyan sangat
sejuk, suhunya rata-rata 17 derajat Celcius dan dapat turun sampai 12
derajat Celcius. Danau Batur dengan ukuran panjang 9 km dan lebar 5 km
merupakan salah satu sumber air dan sumber kehidupan agraris masyarakat
Bali selatan dan timur. Atraksi yang menarik dari desa Trunyan adalah
tata cara penguburan jenazah bagi penduduknya yang telah meninggal. Hal
ini secara spesifik terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai
penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam
yaitu: meletakkan jenazah diatas tanah dibawah udara terbuka yang
disebut dengan istilah mepasah. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara
mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang
telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil
yang gigi susunya telah tanggal. Yang kedua adalah dikubur /
dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah
mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum
sembuh seperti misalnya terjadi pada tubuh penderita penyakit cacar,
lepra dan lainnya. Orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti
dibunuh atau bunuh diri juga dikubur. Anak-anak kecil yang gigi susunya
belum tanggal juga dikubur saat meninggal.
Pura Besakih
Pura Besakih sebagai pura terbesar di Bali merupakan salah satu tempat wisata menarik yang ada di Bali
Pura Besakih adalah sebuah
komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten
Karangasem, Bali, Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 18 Pura
dan 1 Pura Utama. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh
Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam
kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar,
terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan
merupakan pusat dan semua pura yang ada di Besakih. Di Pura Penataran
Agung terdapat 3 arca utama Tri Murti Brahma, Wisnu dan Siwa yang
merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Pelebur.
Keberadaan fisik bangunan Pura Besakih, tidak sekedar menjadi tempat
ibadah terbesar di pulau Bali, namun di dalamnya memiliki keterkaitan
latar belakang dengan makna Gunung Agung. Sebuah gunung tertinggi di
pulau Bali yang dipercaya sebagai arwah serta alam para Dewata. Sehingga
tepatlah kalau di lereng Barat Daya Gunung Agung dibuat bangunan suci
Pura Besakih yang bermakna filosofis. Makna filosofis yang terkadung di
Pura Besakih dalam perkembangannya mengandung unsur-unsur kebudayaan
yang meliputi: Sistem pengetahuan, Peralatan hidup dan teknologi,
Organisasi sosial kemasyarakatan, Mata pencaharian hidup, Sistem bahasa,
Religi dan upacara, dan Kesenian. Ketujuh unsur kebudayaan itu
diwujudkan dalam wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud
budaya material. Hal ini sudah muncul baik pada masa pra-Hindu maupun
masa Hindu yang sudah mengalami perkembangan melalui tahap mitis, tahap
ontologi dan tahap fungsional.
Pura Besakih sebagai objek penelitian berkaitan
dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang berada di Kabupaten
Karangasem Provinsi Bali. Berdasar sebuah penelitian, bangunan fisik
Pura Besakih telah mengalami perkembangan dari kebudayaan pra-hindu
dengan bukti peninggalan menhir, punden berundak-undak, arca, yang
berkembang menjadi bangunan berupa meru, pelinggih, gedong, maupun
padmasana sebagai hasil kebudayaan masa Hindu. Latar belakang keberadaan
bangunan fisik Pura Besakih di lereng Gunung Agung adalah sebagai
tempat ibadah untuk menyembah Dewa yang dikonsepsikan gunung tersebut
sebagai istana Dewa tertinggi.
Pada tahapan fungsional manusia Bali menemukan
jati dirinya sebagai manusia homo religius dan mempunyai budaya yang
bersifat sosial religius, bahwa kebudayaan yang menyangkut aktivitas
kegiatan selalu dihubungkan dengan ajaran Agama Hindu. Dalam budaya
masyarakat Hindu Bali, ternyata makna Pura Besakih diidentifikasi
sebagai bagian dari perkembangan budaya sosial masyarakat Bali dari
mulai pra-Hindu yang banyak dipengaruhi oleh perubahan unsur-unsur
budaya yang berkembang, sehingga mempengaruhi perubahan wujud budaya
ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Perubahan
tersebut berkaitan dengan ajaran Tattwa yang menyangkut tentang konsep
ketuhanan, ajaran Tata-susila yang mengatur bagaimana umat Hindu dalam
bertingka laku, dan ajaran Upacara merupakan pengaturan dalam melakukan
aktivitas ritual persembahan dari umat kepada TuhanNya, sehingga ketiga
ajaran tersebut merupakan satu kesatuan dalam ajaran Agama Hindu di
Bali.
Kerta Gosa Klungkung
Kerta Gosa yang terkenal dengan keunikan Balai Peradilannya merupakan salah satu tempat wisata menarik yang ada di Bali
Kerta Gosa adalah obyek wisata
peninggalan budaya Kraton Semarapura, yang difungsikan sebagai tempat
untuk mengadili perkara dan tempat upacara keagamaan terutama Yadnya
atau potong gigi (mepandes) bagi putra-putri raja. Dari berbagai sumber
menyebutkan, fungsi kedua bangunan terkait erat dengan fungsi pendidikan
lewat lukisan-lukisan wayang yang dipaparkan pada langit-langit
bangunan. Lukisan-lukisan itu, konon, merupakan rangkaian dari suatu
cerita dengan tema pokok parwa, Swargarokanaparwa dan Bima Swarga yang
memberi petunjuk hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya
perbuatan yang dilakukan manusia selama hidupnya) serta penitisan
kembali ke dunia karena perbuatan dan dosa-dosanya. Secara psikologis,
tema-tema lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan Kerta Gosa
memuat nilai-nilai pendidikan mental dan spiritual. Lukisan-lukisan di
bangunan sejarah itu dibagi menjadi enam deretan secara
bertingkat-tingkat. Deretan paling bawah menggambarkan tema yang berasal
dari ceritera Tantri. Deretan kedua dari bawah menggambarkan tema
cerita Bimaswarga dalam Swargarakanaparwa. Deretan selanjutnya
bertemakan cerita Bagawan Kasyapa. Deretan keempat mengambil tema
Palalindon, yaitu ciri dan makna terjadinya gempa bumi secara mitologis.
Lanjutan cerita bertemakan Bimaswarga terlukiskan pada deretan kelima
yang letaknya sudah hampir pada kerucut langit-langit bangunan. Di
deretan terakhir atau keenam ditempati oleh gambaran tentang kehidupan
nirwana. Selain di langit-langit bangunan Kerta Gosa, lukisan wayang
juga menghiasi langit-langit bangunan di sebelah barat Kerta Gosa,
tepatnya di Bale Kambang. Pada langit-langit Bale Kambang ini lukisan
wayang dengan tema cerita Kakawin Ramayana dan Sutasoma. Pengambilan
tema Kakawin ini memberi petunjuk bahwa fungsi bangunan Bale Kambang
merupakan tempat diselenggarakannya upacara keagamaan Manusa Yadnya,
yaitu kegiatan potong gigi putra-putri raja di Klungkung.
Daya tarik Kerta Gosa, selain berupa
lukisan-lukisan tradisional bergaya Kamasan di Bale Kerta Gosa dan Bale
Kambang, juga terletak pada peninggalan penting lainnya yang masih
berada di sekitarnya. Sebagai pemedal agung (pintu gerbang atau gapura),
peninggalan-peninggalan ini tak dapat dipisahkan nilai sejarahnya.
Pemedal Agung terletak di sebelah barat Kerta Gosa yang sangat
memancarkan nilai peninggalan budaya kraton. Pada peninggalan sejarah
ini terkandung pula nilai seni arsitektur tradisional Bali. Gapura
inilah yang pernah berfungsi sebagi penopang mekanisme kekuasaan
pemegang tahta (Dewa Agung) di Klungkung selama lebih dari 200 tahun
(1686-1908). Pada perang melawan ekspedisi militer Belanda yang dikenal
sebagai peristiwa Puputan Klungkung, 28 April 1908, pemegang tahta
terakhir Dewa Agung Jambe dan para pengikutnya gugur. Rekaman peristiwa
ini kini diabadikan dalam monumen Puputan Klungkung yang terletak di
seberang Kerta Gosa. Setelah kekalahan tersebut, bangunan inti Kraton
Semarapura (jeroan) dihancurkan dan dijadikan tempat pemukiman penduduk.
Puing tertinggi yang masih tersisa adalah Kerta Gosa, Bale Kambang
dengan Taman Gili-nya serta Gapura Kraton.
Bangunan-bangunan ini kini menjadi salah satu
objek wisata budaya yang menarik, khususnya dari kajian historisnya.
Apalagi, Kerta Gosa ternyata pernah difungsikan sebagai balai sidang
pengadilan selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung
(1908-1942) dan sejak diangkatnya pejabat pribumi menjadi kepala daerah
kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun
1929. Bahkan, bekas perlengkapan pengadilan berupa kursi dan meja kayu
dengan ukiran dan cat prade masih ada. Benda-benda itu merupakan
bukti-bukti peninggalan lembaga pengadilan adat tradisional, seperti
pernah diberlakukan di Klungkung dalam periode kolonial (1908-1942) dan
periode pendudukan Jepang (1043-1945). Pada tahun 1930, pernah dilakukan
restorasi terhadap lukisan-lukisan wayang yang terdapat di Kerta Gosa
dan Bale Kambang oleh para seniman lukis dari Kamasan. Restorasi lukisan
terakhir dilakukan tahun 1960 sebagai bagian dari upaya melestarikan
seni budaya sekaligus meningkatkan geliat pariwisata Bali.
Siswa SD
Siswa SD Jalan Kaki 6 Km Lewat Bukit Tandus
Amlapura (Bali Post) -
Sedikitnya 70 KK warga di wilayah Bukit Suwung, Lebah dan Gigit Gulinten, Karangasem sampai kini masih terisolasi, tinggal di daerah terpencil. Selain jauh dan sulitnya menjangkau fasilitas umum seperti pasar dan puskesmas, puluhan anak-anak SD mesti berjalan kaki 6 km PP menuju SDN 3 Purwakerti di Amed.
Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Tani Satya Darma Wayan Wirdana, Rabu (17/10) kemarin di Lebah, Karangasem. Dia mengatakan, warga di atas perbukitan tandus di Suwung dan Gulinten, sejak dulu mendambakan ada jalan yang paling tidak bisa dilewati sepeda motor atau mobil. Karena itu, warga berswadaya membebaskan lahan. Dari sekitar 3 km, jalan menuju ke Bukit Suwung dan Gigit, warga baru bisa membuat badan jalan sepanjang 1,5 km. Sementara 1,5 km lagi medan gotong-royong sangat berat, karena berupa lereng batu berbukit. Warga juga tak berani membongkar lereng bukit dengan cangkul, panyong dan alat kerja tangan. Soalnya, khawatir lereng bukit longsor.
Warga melalui ketua kelompok membuat surat permohonan peminjaman alat berat loder kepada Ketua Bappeda Wayan Arta Dipa dan Kadis PU. Pengajuan surat sudah Agustus 2011. Namun kata Wirdana, sampai kini belum ada tanggapan. ''Kami satu kali menghadap Kepala Bappeda dan sudah tiga kali ke dinas PU. Namun sampai kini belum ada jawaban apakah akan diberi meminjam loder itu,'' katanya.
Dia juga mengatakan, pihak Bappeda dan dinas PU juga menjanjikan lokasi jalur pembongkaran badan jalan itu disurvei tahun 2011, bahkan tanggalnya sudah ditentukan. Namun sudah ditunggu tiga minggu dari jadwal, ternyata juga tak ada tim survei dari Pemkab Karangaem. Sementara, saat menghadap pejabat hendak meminjam alat berat itu, dikatakan alat berat itu dipakai bekerja di lapangan di Besakih. Bahkan sampai kini belum ada jawaban, apakah kami akan diberikan meminjam alat berat yang kami dambakan itu,'' katanya.
Wirdana didampingi warga lainnya kemarin mengatakan, sangat menyayangkan sampai kini permukiman penduduk di Suwung dan Gigit masih terisolasi. Warga pun sangat sulit menjangkau fasilitas umum. Di mana, warga kalau berbelanja mesti ke pasar Mangsul, misalnya untuk membeli bibit ternak babi atau membawa barang dagangan. ''Kasihan anak-anak kami ke SD 3 Purwakerti di Amed berjalan kaki sampai 6 km PP. Persoalannya, saat musim kemarau jalur yang dilewati sangat berat di perbukitan tandus dengan panas terik. Sementara pada saat musim hujan rawan banjir dan petir. Syukur mereka sudah mau ke sekolah,'' ujar Wardana.
Dikatakan, warga setempat sangat berharap ada bantuan pemerintah, paling tidak meminjamkan loder digunakan warga untuk membuka badan jalan sepanjang 1,5 km lagi.
Amlapura (Bali Post) -
Sedikitnya 70 KK warga di wilayah Bukit Suwung, Lebah dan Gigit Gulinten, Karangasem sampai kini masih terisolasi, tinggal di daerah terpencil. Selain jauh dan sulitnya menjangkau fasilitas umum seperti pasar dan puskesmas, puluhan anak-anak SD mesti berjalan kaki 6 km PP menuju SDN 3 Purwakerti di Amed.
Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Tani Satya Darma Wayan Wirdana, Rabu (17/10) kemarin di Lebah, Karangasem. Dia mengatakan, warga di atas perbukitan tandus di Suwung dan Gulinten, sejak dulu mendambakan ada jalan yang paling tidak bisa dilewati sepeda motor atau mobil. Karena itu, warga berswadaya membebaskan lahan. Dari sekitar 3 km, jalan menuju ke Bukit Suwung dan Gigit, warga baru bisa membuat badan jalan sepanjang 1,5 km. Sementara 1,5 km lagi medan gotong-royong sangat berat, karena berupa lereng batu berbukit. Warga juga tak berani membongkar lereng bukit dengan cangkul, panyong dan alat kerja tangan. Soalnya, khawatir lereng bukit longsor.
Warga melalui ketua kelompok membuat surat permohonan peminjaman alat berat loder kepada Ketua Bappeda Wayan Arta Dipa dan Kadis PU. Pengajuan surat sudah Agustus 2011. Namun kata Wirdana, sampai kini belum ada tanggapan. ''Kami satu kali menghadap Kepala Bappeda dan sudah tiga kali ke dinas PU. Namun sampai kini belum ada jawaban apakah akan diberi meminjam loder itu,'' katanya.
Dia juga mengatakan, pihak Bappeda dan dinas PU juga menjanjikan lokasi jalur pembongkaran badan jalan itu disurvei tahun 2011, bahkan tanggalnya sudah ditentukan. Namun sudah ditunggu tiga minggu dari jadwal, ternyata juga tak ada tim survei dari Pemkab Karangaem. Sementara, saat menghadap pejabat hendak meminjam alat berat itu, dikatakan alat berat itu dipakai bekerja di lapangan di Besakih. Bahkan sampai kini belum ada jawaban, apakah kami akan diberikan meminjam alat berat yang kami dambakan itu,'' katanya.
Wirdana didampingi warga lainnya kemarin mengatakan, sangat menyayangkan sampai kini permukiman penduduk di Suwung dan Gigit masih terisolasi. Warga pun sangat sulit menjangkau fasilitas umum. Di mana, warga kalau berbelanja mesti ke pasar Mangsul, misalnya untuk membeli bibit ternak babi atau membawa barang dagangan. ''Kasihan anak-anak kami ke SD 3 Purwakerti di Amed berjalan kaki sampai 6 km PP. Persoalannya, saat musim kemarau jalur yang dilewati sangat berat di perbukitan tandus dengan panas terik. Sementara pada saat musim hujan rawan banjir dan petir. Syukur mereka sudah mau ke sekolah,'' ujar Wardana.
Dikatakan, warga setempat sangat berharap ada bantuan pemerintah, paling tidak meminjamkan loder digunakan warga untuk membuka badan jalan sepanjang 1,5 km lagi.
Rabu, 10 Oktober 2012
Terminal Pulogebang beroperasi
Desember, Terminal Pulogebang Beroperasi
Penulis : Fabian Januarius Kuwado | Kamis, 11 Oktober 2012 | 10:54 WIB
Terminal Pulogebang yang akan menampung bus AKAP yang biasanya menumpuk di Terminal Pulogadung.
TERKAIT:
Kepala UPT Terminal Pulogebang, Renny Dwi Astuti mengatakan, tanggal tersebut merupakan tenggat waktu selesainya kontrak kerja antara PT Jaya Konstruksi dan PT Wijaya Karya, sebagai perusahaan yang mengerjakan pembangunan, dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
"Kalau pembangunan fisik, sesuai dengan perjanjian kontrak memang 15 Oktober 2012. Tinggal pemeliharaan dan tahap finishing saja, misalnya bersih-bersih lantai, mencat dinding dan sebagainya," ujar Renny saat dihubungi Kompas.com, Rabu (10/10/2012).
Selain itu, pengoperasian terminal yang melayani dalam kota dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) tersebut juga menunggu rampungnya pembangunan fly over akses dari terminal ke Tol JORR atau pun sebaliknya. Fly over tersebut juga dibangun untuk memudahkan akses keluar-masuk bus, terutama bus AKAP.
Renny mengatakan, beragam fasilitas juga akan disediakan di terminal tersebut, antara lain ruangan sirkulasi penumpang, area kedatangan dalam kota, area kedatangan AKAP, ruang istirahat sopir, toilet, mushala dan sebagainya.
Tak hanya itu, di lantai dasar disediakan pusat penjualan makanan bagi para pengguna moda transportasi di terminal tersebut. Untuk masa yang akan datang, pihak UPT Terminal Pulogebang berencana menambah fasilitas internet gratis.
"Ya, memang ada rencana ke sana, tapi untuk saat ini belum. Hanya pemantauan keluar-masuk bus dan beberapa tempat kami menggunakan control room," katanya.
Terminal Pulogebang memiliki total luas lahan 14 hektar. Sementara, luas bangunan 7 hektar. Terminal ini memiliki 16 peron untuk angkutan dalam kota dan 20 peron AKAP. Nantinya Terminal Pulogebang ini akan dikelola oleh swasta. Namun, tetap berada di bawah Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur, Mirza Aryadi Soelarso mengatakan, meski baru dioperasikan Desember 2012 mendatang, Terminal Pulogebang sudah melayani empat trayek dalam kota, yaitu T25 jurusan Cakung-Rawamangun, T22 jurusan Pulogadung-Gudang Palad, T29 jurusan Pulogadung-Penggilingan dan Bus Transjakarta Koridor XI.
"Ini dilakukan sekaligus kami sosialisasi, baik dengan perusahan angkutan umum maupun para penumpang. Kami imbau juga kepada mereka agar selalu menjaga ketertiban agar kedepannya tidak macet. Tapi sampai sekarang sih belum ada pelanggaran dari para sopir," ujar Mirza.
Langganan:
Komentar (Atom)




















