Rabu, 17 Oktober 2012

Siswa SD

Siswa SD Jalan Kaki 6 Km Lewat Bukit Tandus
Amlapura (Bali Post) -

Sedikitnya 70 KK warga di wilayah Bukit Suwung, Lebah dan Gigit Gulinten, Karangasem sampai kini masih terisolasi, tinggal di daerah terpencil. Selain jauh dan sulitnya menjangkau fasilitas umum seperti pasar dan puskesmas, puluhan anak-anak SD mesti berjalan kaki 6 km PP menuju SDN 3 Purwakerti di Amed.

Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Tani Satya Darma Wayan Wirdana, Rabu (17/10) kemarin di Lebah, Karangasem. Dia mengatakan, warga di atas perbukitan tandus di Suwung dan Gulinten, sejak dulu mendambakan ada jalan yang paling tidak bisa dilewati sepeda motor atau mobil. Karena itu, warga berswadaya membebaskan lahan. Dari sekitar 3 km, jalan menuju ke Bukit Suwung dan Gigit, warga baru bisa membuat badan jalan sepanjang 1,5 km. Sementara 1,5 km lagi medan gotong-royong sangat berat, karena berupa lereng batu berbukit. Warga juga tak berani membongkar lereng bukit dengan cangkul, panyong dan alat kerja tangan. Soalnya, khawatir lereng bukit longsor.

Warga melalui ketua kelompok membuat surat permohonan peminjaman alat berat loder kepada Ketua Bappeda Wayan Arta Dipa dan Kadis PU. Pengajuan surat sudah Agustus 2011. Namun kata Wirdana, sampai kini belum ada tanggapan. ''Kami satu kali menghadap Kepala Bappeda dan sudah tiga kali ke dinas PU. Namun sampai kini belum ada jawaban apakah akan diberi meminjam loder itu,'' katanya.

Dia juga mengatakan, pihak Bappeda dan dinas PU juga menjanjikan lokasi jalur pembongkaran badan jalan itu disurvei tahun 2011, bahkan tanggalnya sudah ditentukan. Namun sudah ditunggu tiga minggu dari jadwal, ternyata juga tak ada tim survei dari Pemkab Karangaem. Sementara, saat menghadap pejabat hendak meminjam alat berat itu, dikatakan alat berat itu dipakai bekerja di lapangan di Besakih. Bahkan sampai kini belum ada jawaban, apakah kami akan diberikan meminjam alat berat yang kami dambakan itu,'' katanya.

Wirdana didampingi warga lainnya kemarin mengatakan, sangat menyayangkan sampai kini permukiman penduduk di Suwung dan Gigit masih terisolasi. Warga pun sangat sulit menjangkau fasilitas umum. Di mana, warga kalau berbelanja mesti ke pasar Mangsul, misalnya untuk membeli bibit ternak babi atau membawa barang dagangan. ''Kasihan anak-anak kami ke SD 3 Purwakerti di Amed berjalan kaki sampai 6 km PP. Persoalannya, saat musim kemarau jalur yang dilewati sangat berat di perbukitan tandus dengan panas terik. Sementara pada saat musim hujan rawan banjir dan petir. Syukur mereka sudah mau ke sekolah,'' ujar Wardana.

Dikatakan, warga setempat sangat berharap ada bantuan pemerintah, paling tidak meminjamkan loder digunakan warga untuk membuka badan jalan sepanjang 1,5 km lagi.

Rabu, 10 Oktober 2012

Terminal Pulogebang beroperasi

Desember, Terminal Pulogebang Beroperasi
 
 
 
 
Penulis : Fabian Januarius Kuwado | Kamis, 11 Oktober 2012 | 10:54 WIB
Terminal Pulogebang yang akan menampung bus AKAP yang biasanya menumpuk di Terminal Pulogadung.
JAKARTA, KOMPAS.com - Kabar gembira bagi warga Ibu Kota. Pembangunan Terminal Bus Terpadu Pulogebang, Jakarta Timur, rencananya akan selesai pada tanggal 15 Oktober 2012. Meski tinggal tahap pembangunan akhir, Dinas Perhubungan DKI Jakarta baru akan mulai mengoperasikan terminal bulan Desember 2012 mendatang.
Kepala UPT Terminal Pulogebang, Renny Dwi Astuti mengatakan, tanggal tersebut merupakan tenggat waktu selesainya kontrak kerja antara PT Jaya Konstruksi dan PT Wijaya Karya, sebagai perusahaan yang mengerjakan pembangunan, dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
"Kalau pembangunan fisik, sesuai dengan perjanjian kontrak memang 15 Oktober 2012. Tinggal pemeliharaan dan tahap finishing saja, misalnya bersih-bersih lantai, mencat dinding dan sebagainya," ujar Renny saat dihubungi Kompas.com, Rabu (10/10/2012).
Selain itu, pengoperasian terminal yang melayani dalam kota dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) tersebut juga menunggu rampungnya pembangunan fly over akses dari terminal ke Tol JORR atau pun sebaliknya. Fly over tersebut juga dibangun untuk memudahkan akses keluar-masuk bus, terutama bus AKAP.
Renny mengatakan, beragam fasilitas juga akan disediakan di terminal tersebut, antara lain ruangan sirkulasi penumpang, area kedatangan dalam kota, area kedatangan AKAP, ruang istirahat sopir, toilet, mushala dan sebagainya.
Tak hanya itu, di lantai dasar disediakan pusat penjualan makanan bagi para pengguna moda transportasi di terminal tersebut. Untuk masa yang akan datang, pihak UPT Terminal Pulogebang berencana menambah fasilitas internet gratis.
"Ya, memang ada rencana ke sana, tapi untuk saat ini belum. Hanya pemantauan keluar-masuk bus dan beberapa tempat kami menggunakan control room," katanya.
Terminal Pulogebang memiliki total luas lahan 14 hektar. Sementara, luas bangunan 7 hektar. Terminal ini memiliki 16 peron untuk angkutan dalam kota dan 20 peron AKAP. Nantinya Terminal Pulogebang ini akan dikelola oleh swasta. Namun, tetap berada di bawah Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur, Mirza Aryadi Soelarso mengatakan, meski baru dioperasikan Desember 2012 mendatang, Terminal Pulogebang sudah melayani empat trayek dalam kota, yaitu T25 jurusan Cakung-Rawamangun, T22 jurusan Pulogadung-Gudang Palad, T29 jurusan Pulogadung-Penggilingan dan Bus Transjakarta Koridor XI.
"Ini dilakukan sekaligus kami sosialisasi, baik dengan perusahan angkutan umum maupun para penumpang. Kami imbau juga kepada mereka agar selalu menjaga ketertiban agar kedepannya tidak macet. Tapi sampai sekarang sih belum ada pelanggaran dari para sopir," ujar Mirza.